ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR PATOLOGIS
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai
sebelum bayi dilahirkan, masalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu
hamil. Berbagai bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap
faktor-faktor yang memperlemah kondisi seorang ibu hamil perlu diprioritaskan,
seperti gizi, anemia, dekatnya jarak antara kehamilan dan buruknya higinie.
Disamping itu perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan pranatal yang memadai
dan penanggulangan faktor-faktor yang menimbulkan kematian perinatal yang
meliputi perdarahan, hipertermi, infeksi, BBLR, asfeksia dan hipotermia.
Penelitian telah menunjukkan bahwa
> 2% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama
kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir sehat akan menyebabkan
kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian.
Pada umumnya kelahiran bayi normal
cukup dihadiri oleh bidan yang dapat diberi tanggung jawab penuh terhadap
keselamatan ibu dan bayi pada persalinan normal. Oleh karena kelainan pad aibu
dan bayi dapat terjadi beberapa saat sesudah selesainya persalinannya yang
dianggap normal, maka seorang bidan harus mengetahui dengan segera timbulnya
perubahan-perubahan pada ibu dan bayi dan bila perlu, memberikan pertolongan
seperit menghentikan perdarahan, membersihkan jalan nafas, memberi O2 dan
melakukan nafas buatan.
Dengan melihat kenyataan diatas, maka
penulis ingin mempelajari lebih lanjut perawatan bayi segera sesudah lahir.
B.
Tujuan
1.
Tujuan
Memberikan
asuhan kebidanan dengan menggunakan manajemen kebidanan yang tepat pada bayi
baru lahir.
2.
1.
Mampu
menguraikan konsep dan manajemen kebidanan pada bayi baru lahir dengan bayi
berat lahir rendah.
2.
Mampu
mengidentifikasikan masalah dan melakukan analisa data yang terkumpul pada bayi
baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.
3.
Mampu
mengidentifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan pada bayi baru lahir dengan
bayi berat lahir rendah.
4.
Mampu mengantisipasi masalah
potensial dan diagnosa lain pada bayi baru lahir dengan
bayi berat lahir rendah.
5.
Mampu mengevaluasi kebutuhan
segera pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.
6.
Mampu membuat perencanaan
tindakan pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.
7.
Mampu melaksanakan rencana
tindakan pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.
8.
Mengevaluasi
hasil asuhan pada bayi baru lahir dengan
bayi berat lahir rendah.
C.
Manfaat
1.
Sabagai sarana untuk merupakan ilmu serta mengamalkan apa yang telah
diberikan kepada peserta didik selama mengikuti perkuliahan di program studi Akademi Kebidanan Patriot Bangsa Husada.
2.
Bagi Institusi Pendidikan
a.
Sebagai
bahan evaluasi terhadap teori yang telah diberikan kepada peserta didik selama
mengikuti perkuliahan
b. Sebagai sumber bacaan
dan referensi bagi di perpustakaan institusi pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bayi
Dengan Berat Badan Lahir Rendah
Istilah
prematuritas telah diganti dengan berat badan lahir rendah (BBLR) karena
terdapat dua bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari
2.500 gr, yaitu karena umur hamil kurang dari 37 minggu, berat badan lebih
rendah dari semestinya, sekalipun umur cukup, atau karena kombinasi keduanya.
Pembagian kehamilan menurut WHO 1979 adalah sebagai
berikut :
1.
Preterm
Umur hamil kurang dari 37
minggu (259 hari)
2.
Aterm
Umur hamil antara 37 sampai 42
minggu (259-293)
3.
Post –
term
Umur
hamil di atas 42 minggu (294 hari)
WHO mengganti istilah bayi prematur dengan bayi Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR), karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan
kurang dari 2500 gr pada waktu lahir bukan bayi prematur.
1.
Prematuritas
murni
2.
Small For
Date (SFD) atau kecil untuk Masa Kehamilan (KMK) adalah bayi yang berat
badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan.
3.
Retardasi
pertumbuhan janin intrauterin
Adalah bayi yang lahir dengan berat badan rendah
dan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
4.
Light for
date sama dengan small for date
5.
Dismaturitas
Adalah suatu sindroma klinik dimana terjadi ketidak – seimbangan
antara pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan. Atau bayi-bayi yang lahir dengan
berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Atau bayi dengan gejala intrauterine
malnutrition or wasting.
6.
Large for
date
Adalah bayi yang dilahirkan lebih besar dari seharusnya tua
kehamilan, misalnya pada diabetes melitus. Pada bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan intrauterin
dipakai grafik Lubchenco dinyatakan adanya retardasi bila berat badan bayi di
bawah 10 persentil dari grafik baku.
B.
Frekuensi
Frekuensi BBLR dinegara maju
berkisar antara 3,6 – 10,8%, di negara berkembang berkisar antara 10-43%. Rasio antara negara maju dan negara berkembang adalah 1:4.
C.
Etiologi
Sering faktor penyebab tidak diketahui ataupun kalau
diketahui faktor penyebabnya tidaklah berdiri sendiri, antara lain adalah :
1.
Faktor
genetik atau kromosom
2.
Infeksi
3.
Bahan
toksik
4.
Radiasi
5.
Insufisiensi
atau disfungsi plasenta
6.
Faktor
nutrisi
7.
Faktor-faktor
lain seperti merokok, peminum alkohol, bekerja berat masa hamil, plasenta
previa, kehamilan ganda, obat-obatan, dan sebagainya.
D.
Diagnosis
dan Gejala Klinik
1.
Sebelum
bayi lahir
a.
Pada
anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus, dan lahir
mati.
b.
Pembesaran
uterus tidak sesuai tuanya kehamilan
c.
Pergerakan
janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat, gerakan janin
lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.
d.
Pertambahan
berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.
e.
Sering
dijumpai kehamilan dengan oligihidramnion atau bisa pula dengan hidramnion :
hiperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum, atau
perdarahan antepartum.
2.
Setelah
bayi lahir
a.
Bayi
dengan retardasi pertumbuhan intrauterin
Secara klasik tampak seperti
bayi yang kelaparan. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras gerakan
bayi terbatas, verniks kaseosa sedikit atau tidak ada, kulit tipis, kering,
berlipat-lipat, mudah diangkat. Abdomen cekung atau
rata, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna
kehijauan.
b.
Bayi
prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu
Verniks kaseosa ada, jaringan lemak bawah kulit sedikit,
tulang tengkorak lunak mudah bergerak, muka seperti boneka (doll-lkie), abdomen
buncit, tali pusat tebal dan segar, menangis lemah, tonus otot hipotoni, dan
kulit tipis, merah dan transparan.
c.
Bayi small
for date sama dengan bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin
d.
Bayi
prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya, karena itu
sangat peka terhadap gangguan pernafasan, infeksi, trauma kelahiran, hipotermi,
dan sebagainya. Pada bayi kecil untuk masa kehamilan (small for date) alat-alat
dalam tubuh lebih berkembang dibandingkan dengan bayi prematur berat badan
sama, karena itu akan lebih mudah hidup diluar rahim, namun tetap lebih peka
terhadap infeksi dan hipotermi dibandingkan bayi matur dengan berat badan
normal.
E. Faktor – Faktor
yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Persalinan Preterm (Prematur) Atau Berat
Badan Lahir Rendah.
1.
Faktor Ibu
a.
Gizi saat
hamil yang kurang
b.
Umur kurang
dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
c.
Jarak
hamil dan bersalin terlalu dekat
d.
Penyakti
menahun ibu : hipertensi,jantung, gangguan pembuluh darah (perokok).
e.
Faktor
pekerja yang terlalu berat.
2.
Faktor
Kehamilan
a.
Hamil
dengan hidramnion
b.
Hamil
ganda
c.
Perdarahan
antepartum
d.
Komplikasi
hasmil : pre –eklampsia/eklapsia, ketuban pecah dini
3.
Faktor
Janin
a.
Cacat
bawaan
b.
Infeksi
dalam rahim
4.
Faktor
yang Masih Belum Diketahui
F.
Ciri-ciri
Aktivitas Bayi Baru Lahir Rendah
Ciri-ciri aktivitas bayi dengan berat badan lahir rendah
berbeda-beda sehingga perlu diperhatikan gambaran umum kehamilan sebagai
berikut :
1.
Ingat hari
pertama menstruasi
2.
Denyut
jantung terdengar pada minggu 18 sampai 22
3.
Fetal
quickening minggu 16 sampai 22
4.
Pemeriksaan
: tinggi fundus uteri, ultrasonografi (konsultasi)
5.
Penilaian
secara klinik : berat badan lahir, panjang badan, lingkaran dada, dan lingkaran
kepala.
G.
Langkah
– Langkah Menghindari Persalinan Preterm
Dengan mengetahui faktor penyebab persalinan preterm
dapat dipertimbangkan langkah untuk menghindari persalinan preterm dengan
jalan.
1.
Melakukan
pengawasan hamil dengan seksama dan teratur.
2.
Melakukan
konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan persalinan
preterm.
3.
Memberikan
nasehat tentang gizi saat kehamilan : meningkatkan pengertian KB intervall :
memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan segera melakukan
konsultasi, menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini
penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi / diobati.
4.
Meningkatkan
keadaan sosial – ekonomi, keluarga dan kesehatan lingkungan.
H.
Masalah
– Masalah yang Diperhatikan Menghadapi Bayi Preterm
Menghadapi bayi preterm harus memperhatikan masalah sebagai berikut
:
1.
Suhu Tubuh
a. Pusat mengatur nafas
badan masih belum sempurna.
b.
Luas badan
bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah
c.
Otot bayi
masih lemah
d.
Lemak
kulit dan lemak coklat kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan.
e.
Kemampuan
metabolisme panas masih rendah, sehingga bayi dengan berat badan lahir rendah
perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat
dipertahankan sekitar 360 sampai 370C.
2.
Pernapasan
a.
Pusat
pengatur pernapasan belum sempurna
b.
Surfaktan
paru-paru masih kurang, sehingga perkembangannya tidak sempurna.
c.
Otot
pernapasan dan tulang iga lemah.
d.
Dapat
disertai penyakit : penyakit hialin membran, mudah infeksi paru-paru, gagal
pernapasan.
3.
Alat
Pencernaan Makanan
a.
Belum
berfungsi sempurna, sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemah/kurang
baik.
b.
Aktivitas
otot pencernaan makanan masih belum sempurna, sehingga pengosongan lambung
berkurang.
c.
Mudah
terjadi regurgitasi isi lambugn dan dapat menimbulkan aspirasi pneuomonia.
4.
Hepar yang
Belum Matang (Immatur)
Mudah
menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga mudah terjadi
hiperbilirubinemia (kuning) sampai kern ikterus.
5.
Ginjal
Masih belum Matang (Immatur)
Kemampuan
mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna sehingga
mudah terjadi odema.
6.
Perdarahan
Dalam Otak
a.
Pembuluh
darah bayi prematur masih rapuh, dan mudah pecah
b.
Sering
mengalami gangguan pernapasan, sehingga memudahkan terjadi perdarahan dalam
otak
c.
Perdarahan
dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi
d.
Pemberian
O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan
nekrosis.
I.
Gambaran
Bayi Preterm
Gambaran
bayi berat badan lahir rendah tergantung dari umur kehamilan sehingga dapat
dikatakan bahwa makin kecil muda kehamilan makin nyata. Sebagai gambaran umum
dapat dikemukakan bahwa bayi berat badan lahir rendah mempunyai karakteristik
1.
Berat
kurang dari 2.500 gr
2.
Panjang
kurang dari 45 cm
3.
Lingkaran
dada kurang dari 30cm
4.
Lingkaran
kepala kurang dari 33 cm
5.
Umur
kehamilan kurang dari 37 minggu
6.
Kepala
relatif lebih besar
7.
Kulit :
tiis transparan, rambut lanugo banyak, lemak kulit kurang
8.
Otot
hipotonik – lemah
9.
Pernapasna
tak teratur dapat terjadi apnea (gagal napas)
10.
Ekstremitas
: paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi – lurus
11.
Kepala
tidak mampu tegak
12.
Pernapasan
sekitar 45 sampai 50 kali per menit
13.
Fekuensi nadi
100 sampai 140 kali per menit.
J. Penyulit Bayi
dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Penyulit
bayi dengan berat badan lahir rendah teragntung dari beberapa faktor sebagai
berikut :
1.
Umur hamil
saat persalinan
Makin mudah kehamilan makin sulit beradaptasi dengan keadaan luar
rahim sehingga terjadi komplikasi yang makin besar.
2.
Asfiksia /
iskemia otak
Dapat terjadi nekrosis dan perdarahan
3.
Gangguan
metabolisme
Menimbulkan asidosis, hipoglisemia, dan hiperbilirubinemia
4.
Mudah
terjadi infeksi
Mudah
menjadi sepsis dan meningitis
5.
Bila bayi
dengan berat badan lahir rendah dapat mengatasi masih perlu dipertimbangkan
kelanjutan penyulit, yaitu gangguan panca indra, gangguan sistem motorik saraf
pusat, dapat terjadi hidrosefalus, cerebral palsy.
K. Perawatan Bayi
Berat Badan Lahir Rendah
Yang perlu
diperhatikan adalah pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan siap
sedia dengan tabung oksigen. Pada bayi prematur makin pendek masa kehamilan,
makin sulit dan banyak persoalan yang akan dihadapi, dan makin tinggi angka
kematian perinatal. Biasanya kematian disebabkan oleh gangguan pernafasan,
infeksi, cacat bawaan, dan trauma pada otak.
1.
Pengaturan
Suhu Lingkungan
Bayi
dimasukkan dalam inkubator dengan suhu yang diatur :
a. Bayi berat badan
dibawah 2 kg 350C
b.
Bayi berat
badan 2 kg sampai 2,5 kg 340C
2.
Makanan
Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Umumnya bayi prematur belum sempurna refleks mengisap dan batuknya,
kapasitas lambung masih kecil, dan daya enzim pencernaan, terutama lipase,
masih kurang. Maka makanan diberikan dengan pipet sedikit-sedikit namun lebih
sering. Sedangkan pada bayi small for date sebaliknya kelihatan seperti
orang kelaparan, rakus minum dan makan. Yang harus diperhatikan adalah terhadap
kemungkinan terjadinya penumonia aspirasi.
L.
Prognosis
Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Kematian perinatal pada bayi berat
badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang
sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat makin rendah. Angka kematian
yang tinggi terutama disebabkan oelh seringnya dijumpai kelainan komplikasi
neonatal seperti asfiksia, aspirasi penumonia, perdarahan intrakranial, dan
hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada
syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan lainnya.
M.
Tata
Laksana BBLR Saat Lahir
Seperti bayi baru lahir yang lain,
BBLR perlu mendapat perhatian dan tatalaksana yang baik pada saat lahir, yaitu
harus mendapat “Pelayanan Neonatal Esensial”, yang terdiri atas :
1. Persalinan yang
bersih dan aman
2. stabilisasi suhu
3. Inisialisasi
pernapasan spontan
4. inisiasi pernafasan
ASI dini dan ekskusif
5. Pencegahan infeksi
dan pemberian imunisasi
Tatalaksana saat lahir mencakup :
a. Penilaian BBLR saat
lahir, dengan menggunakan dua parameter :
b. Bernapas spontan atau
menangis
c. Air ketuban (keruh
atau tidak
1. Asuhan bayi baru
lahir
- BBLR yang
menangis termasuk dalam kriteria bayi lahir tanpa asfiksia. Bayi tersebut
dalam keadaan bernafas baik dan berwarna air ketuban bersih. Untuk BBLR
yang lahir menangis atau bernafas spontan ini dilakukan asuhan BBLR tanpa
asfiksi sebagai berikut :
-
Bersihkan lendir secukupnya kalau perlu
-
Keringkan dengan kain yang kering dan hangat
-
Segera berikan pada ibu untukkontak kulit ibu
dengan kulit bayi
-
Segera memberikan ASI dini dengan membelai
-
Jangan dimandikan segera (Tidak boleh dimandikan
dalam waktu 12 jam pertama)
-
Profilaksis suntikan vitamin K1 1 mg dosis
tunggal, IM pada paha kiri anterolateral
-
Antibiotika salep mata
-
Perawatan tali pusat : kering, bersihm tidak
dibubuhi apapun dan terbuka
-
Bila berat lahir > 2000 gram dan tanpa
masalah atau penyulit, dapat diberikan vaksinasi hepatitis B ke 1 pada paha
kanan
- BBLR yang
tidak bernapas spontan dimasukan ke dalam kategori lahir dengan asfiksia
dan harus segera dilakukan langkah awal resusitasi dan tahapan resusitasi
berikutnya bila diperlukan
Resusitasi
-
Diputuskan berdasarkan penilaian keadaan bayi baru
lahir, yaitu bila
~
Diputuskan bercampur mekonium (letak kepala)
~
Bayi tidak menangis atau tidak bernafas spontanm
atau bernafas megap-megap
-
Menggunakan acuan berikut
~
Asuhan bayi baru lahir dengan asfiksia pada buku
APN
~
Buku modul atau kaset vidio manajemen dengan
asfiksia bayi baru lahir untuk bidan
-
Langkah awal resusitasi
~
Jaga bayi dalam keadaan hangat
~
Atur posisi kepala bayi
~
Isap lendir dimulut, kemudian hidung
~
Keringkan sambil dilakukan rangsang taktil
~
Reposisi
~
Nilai keadaan bayi dengan melihat parameter :
usaha nafas
-
Bila setelah dilakukan penilaian, bayi tidak
menangis atau tidak bernafas spontan dan teratur
~
Lakukan ventilasi sesuai dengan tatalaksana
manajemen asfiksia bayi baru lahir
~
Bila setelah ventilasi selama 2 menit, tidak
berhasil, siapkan rujukan
Bila bayi tidak dirujuk dan
tidak bernafas hentikan ventilasi setelah 20 menit, kemudian siapkan konseling
dukungan emosional dan pencatatan bayi meninggal
N. Perawatan Metode
Kanguru Bagi BBLR
Perawatan metode kanguru
memiliki 3 konponen :
a. Kontak kulit dengan
kulit antara bagian depan tubuh bayi dengan dada dan perut ibu dalam baju kanguru Ibu
merupakan sumber panas bagi bayi. Kontak kulit dengan kulit dimulai saat
setelah lahir dan berlanjut siang dan malam. Bayi hanya memakai topi atau kain
untuk menjaga kepala tetap hangat dan bayi menggunakan popok yang dilapisi
plastik sehingga bayi mendapatkan sumber panas secara terus menerus melalui
konduksi dan radiasi. Pengganti ibu boleh ayah, tante, nenek.
b. ASI eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian minum hanya
ASI sampai bayi berumur 6 bulan. Bayi menetek segera setelah lahir sering. Kain
yang membungkus disekeliling ibu dan bayi dilonggarkan untuk meneteki. Berikan
informasi untuk membantu ibu bagaimana meneteki bayi.
c. Memberikan dukungan
terhadap ibu dan bayi
Walaupun kebutuhan ibu atau
bayi terpenuhi dengan tidak memisahkan mereka. Ibu membutuhkan banyak dukungan
dari suami dan keluarga yang lain untuk menjaga kontak yang terus menerus ini.
Di fasilitasi kesehatan petugas akan membantu. Di rumah keluarga akan membantu.
1.Definisi Hipoglikemia
Hipoglikemia
adalah adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukosa darah < 45mg/dl sedangkan normalnya adalah 60-80
mg/dl.
Patofisiologi Hipoglikemia
1
Hipoglikemia
sering terjadi pada BBLR karena cadangan glukosa rendah
2
Pada ibu DM
terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin
juga meniingkat pada janin. Saat lahir dimana jalur plasenta terputus maka
transfer glukosa terhenti sedangkan respon insulin masih tinggi sehingga
terjadi hipoglikemia.
3 Hipoglikemia
adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang
yang berakibat hipoksi otak. Bila tidak diolah dengan baik akan menimbulkan
kerusakan saraf pusat bahkan sampai kematian.
4
Kejadian
hipoglikemia lebih sering terdapat dengan ibu DM
5
Glukosa
merupakan kalori yang penting untuk pertahanan hidup selama persalinan dan
hari-hari pertama pasca lahir. Setiap stres yang terjadi mengurangi cadangan
glikosa yang ada karena meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada
asfiksia, hipotermi, hipertermi, dan gangguan pernafasan.
Diagnosa hipoglikemi
Anamnesis
a. Riwayat
bayi : asfiksia, hipotermi, hipertermi, dan gangguan pernafasan.
b. Riwayat
bayi prematur
c. Riwayat
bayi besar untuk masa kehamilan
d. Riwayat
bayi kecil untuk masa kehamilan
e. Riwayat
bayi dengan ibu diabetes melitus
f. Riwayat
bayi dengan penyakit jantung bawaan
g. Bayi
yang sakit atau stres
h. Bayi
yang lewat bulan
i.
Bayi dengan
polisemia
j.
Bayi dengan
puasa
k. Bayi
dengan eritlobastosis
l.
Obat-obatan yang
dikonsumsi ibu misalnya steroid, beta simpatomimetik dan beta bloker
2.Gejala klinis atau
pemeriksaan fisik
Gejala hipoglikemia: tremor, jitteri, keringat dingin, latergi,
kejang, distres nafas
1. Jitteri
2. Sianosis
3. Kejang
atau tremor
4. Latergi
dan menyusui yang buruk
5. Apnea
6. Tangisan
yang lemah atau dengan nada tinggi
7. Hipotermia
Diagnosis banding
Insufisiensi adrenal kelainan
jantung, gagal ginjal, penyakit ssp, sepsis, asfiksia, abnormalitas metabolik (
hipolkalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hiponagsemia, hipodefisiensi
piridoksin)
Penyulit :
1. Hipoksia
otak
2. Kerusakan
sistem saraf pusat
Tata laksana :
1. Monitor
Pada
bagian yang berisiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM)
Perlu
monitor dalam 3 hari pertama :
a. Periksa
kadar glukosa saat bayi datang atau umur 3 jam.
b. Ulangi
tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 x
pemeriksaan.
c. Kadar
glukosa < 45mg/dl atau gejala positif tangani hipoglukemia
d. Pemeriksaan
pada kadar glukosa baik,pulangkan selama 3 hari penanganan hipoglikemia
selesai.
2. Penanganan
hipoglikemia dengan gejala :
a. Bolus
glukosa 10% 2ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1ml/menit
b. Pasang
jalur iv D10 sesuai kebutuhan ( kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit
Atau dengan cara lain
GIR
Konsentrasi glukosa
tertinggi perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral.
a. Untuk
mencari kecepatan infus glukosa pada neonatus ditetapkan dengan GIR
Kecepatan infus (GIR =
Glucosa Infusion Rate)
GIR ( ng/kg/min)
Kecepatan cairan
(cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%)
6x
berat (kg)
b. Periksa
glukosa darah pada : satu jam setelah bolus dan tiap 3 jam.
c. Bila
kadar glukosa masih kurang dari 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi
seperti diatas
d. Bila
kadar 25-45 mg/dl tanpa gejala klinis
1. Infus
dextrose 10 diteruskan
2. Periksa
kadar glukosa tiap 3 jam
3. Asi
diberikan bila bayi dapat minum
e. Bila
kadar glukosa > 45 mg/dl dalam dua kali pemeriksaan
1. Ikuti
petunjuk jika kadar glukosa sudah normal
2. Asi
diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus dapat diturunkan pelan-pelan.
3. Jangan
menghentikan infus secara tiba-tiba
3. Kadar
glukosa darah kurang 45mg/dl tanpa gejala :
a. asi
teruskan
b. pantau
bila ada manajemen seperti atas
c. periksa
kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :
1. kadar
< 25mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi
2. kadar
25-45 mg/dl naikkan frekuensi minum
3. kadar
> 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal.
4. kadar
glukosa normal :
a. IV
teruskan
b. Periksa
kadar glukosa tiap 12 jam
Bila kadar glukosa
turun, atasi dengan cara diatas
Bila bayi sudah tidak
mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila dua kali pemeriksaan dalam
batas normal pengukuran dihentikan.
5. persisten
hipoglikemia ( hipoglikemia > 7 hari)
a. Konsultasi
endokrin
b. Terapi : kortikosteroid, hidrokortison 5 mg/kg/hari 2x perhari IV atau pretmison 2mg/kg/hari/oral mebcari kausal hipoglikemia lebih dalam\
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam
kasus ini ditemui pentingnya pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan
tentang tindakan dan deteksi dini bahwa bayi yang akan dilahirkan akan
mengalami BBLR. Sehingga
petugas kesehatan dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi dan
dapat melakukan tindakan secara cepat dan tepat.
Dengan demikian angka mortalitas dan
morbiditas bayi baru lahir yang disebabkan oleh BBLR dapat di turunkan.
Bidan
dituntut suatu ketrampilan yang memadai dalam mengantisipasi segala resiko yang
dapat terjadi dalam proses kelahiran sehingga dapat dilakukan tindakan yang
tepat untuk mengantisipasi masalah pada bayi baru lahir. Untuk itu penulis
memberikan saran kepada para bidan atau petugas kesehatan lainnya agar dapat
mendokumentasikan semua tindakan dan perkembangan atau masalah yang terjadi
sesuai dengan asuhan kebidanan.
BAB V
PENUTUP
Dalam hal ini penulis menyadari
mungkin Studi kasus Asuhan Kebidanan
Patologis ini jauh dari kesempurnaan baik isi maupun
cara penulisannya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun demi perbaikan dan penambahan pengetahuan di masa mendatang.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberi bantuan, baik matrial maupun spiritual
sehingga tersusunnya studi kasus Asuhan Kebidanan Patologis ini dan semoga mendapat imbalan yang
setimpal dari Allah SWT, akhir kata, semoga studi kasus ini dapat bermanfaat
bagi kita semua, Amin.
Bandar Jaya, Mei 2016
Penulis
DAFTAR PUSTAKA
No comments:
Post a Comment