6/20/2022

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR PATOLOGIS

 ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR PATOLOGIS

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan, masalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Berbagai bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap faktor-faktor yang memperlemah kondisi seorang ibu hamil perlu diprioritaskan, seperti gizi, anemia, dekatnya jarak antara kehamilan dan buruknya higinie. Disamping itu perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan pranatal yang memadai dan penanggulangan faktor-faktor yang menimbulkan kematian perinatal yang meliputi perdarahan, hipertermi, infeksi, BBLR, asfeksia dan hipotermia.

Penelitian telah menunjukkan bahwa > 2% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian.

Pada umumnya kelahiran bayi normal cukup dihadiri oleh bidan yang dapat diberi tanggung jawab penuh terhadap keselamatan ibu dan bayi pada persalinan normal. Oleh karena kelainan pad aibu dan bayi dapat terjadi beberapa saat sesudah selesainya persalinannya yang dianggap normal, maka seorang bidan harus mengetahui dengan segera timbulnya perubahan-perubahan pada ibu dan bayi dan bila perlu, memberikan pertolongan seperit menghentikan perdarahan, membersihkan jalan nafas, memberi O2 dan melakukan nafas buatan.

Dengan melihat kenyataan diatas, maka penulis ingin mempelajari lebih lanjut perawatan bayi segera sesudah lahir.

 

B.       Tujuan

1.    Tujuan Umum

Memberikan asuhan kebidanan dengan menggunakan manajemen kebidanan yang tepat pada bayi baru lahir.

2.    Tujuan Khusus

1.      Mampu menguraikan konsep dan manajemen kebidanan pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

2.      Mampu mengidentifikasikan masalah dan melakukan analisa data yang terkumpul pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

3.      Mampu mengidentifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

4.      Mampu mengantisipasi masalah potensial dan diagnosa lain pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

5.      Mampu mengevaluasi kebutuhan segera pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

6.      Mampu membuat perencanaan tindakan pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

7.      Mampu melaksanakan rencana tindakan pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

8.      Mengevaluasi hasil asuhan pada bayi baru lahir dengan bayi berat lahir rendah.

 

C.      Manfaat

1.    Bagi Penulis

Sabagai sarana untuk merupakan ilmu serta mengamalkan apa yang telah diberikan kepada peserta didik selama mengikuti perkuliahan di program studi Akademi Kebidanan Patriot Bangsa Husada.

 

2.     Bagi Institusi Pendidikan

a.       Sebagai bahan evaluasi terhadap teori yang telah diberikan kepada peserta didik selama mengikuti perkuliahan

b.      Sebagai sumber bacaan dan referensi bagi di perpustakaan institusi pendidikan

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Pengertian Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah

Istilah prematuritas telah diganti dengan berat badan lahir rendah (BBLR) karena terdapat dua bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gr, yaitu karena umur hamil kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur cukup, atau karena kombinasi keduanya.

Pembagian kehamilan menurut WHO 1979 adalah sebagai berikut :

1.       Preterm

Umur hamil kurang dari 37 minggu (259 hari)

2.       Aterm

Umur hamil antara 37 sampai 42 minggu (259-293)

3.       Post – term

Umur hamil di atas 42 minggu (294 hari) 

WHO mengganti istilah bayi prematur dengan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gr pada waktu lahir bukan bayi prematur.

1.       Prematuritas murni

2.       Small For Date (SFD) atau kecil untuk Masa Kehamilan (KMK) adalah bayi yang berat badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan.

3.       Retardasi pertumbuhan janin intrauterin

Adalah bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.

4.       Light for date sama dengan small for date

5.       Dismaturitas

Adalah suatu sindroma klinik dimana terjadi ketidak – seimbangan antara pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan. Atau bayi-bayi yang lahir dengan berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Atau bayi dengan gejala intrauterine malnutrition or wasting.

 

6.       Large for date

Adalah bayi yang dilahirkan lebih besar dari seharusnya tua kehamilan, misalnya pada diabetes melitus. Pada bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan intrauterin dipakai grafik Lubchenco dinyatakan adanya retardasi bila berat badan bayi di bawah 10 persentil dari grafik baku.  

B.       Frekuensi

Frekuensi BBLR dinegara maju berkisar antara 3,6 – 10,8%, di negara berkembang berkisar antara 10-43%. Rasio antara negara maju dan negara berkembang adalah 1:4.  

C.     Etiologi

Sering faktor penyebab tidak diketahui ataupun kalau diketahui faktor penyebabnya tidaklah berdiri sendiri, antara lain adalah :

1.       Faktor genetik atau kromosom

2.       Infeksi

3.       Bahan toksik

4.       Radiasi

5.       Insufisiensi atau disfungsi plasenta

6.       Faktor nutrisi

7.       Faktor-faktor lain seperti merokok, peminum alkohol, bekerja berat masa hamil, plasenta previa, kehamilan ganda, obat-obatan, dan sebagainya. 

 

D.     Diagnosis dan Gejala Klinik

1.      Sebelum bayi lahir

a.       Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus, dan lahir mati.

b.       Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan

c.       Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.

d.      Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.

e.       Sering dijumpai kehamilan dengan oligihidramnion atau bisa pula dengan hidramnion : hiperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum, atau perdarahan antepartum.

2.      Setelah bayi lahir

a.       Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin

Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras gerakan bayi terbatas, verniks kaseosa sedikit atau tidak ada, kulit tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat. Abdomen cekung atau rata, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan.        

b.       Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu

Verniks kaseosa ada, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tulang tengkorak lunak mudah bergerak, muka seperti boneka (doll-lkie), abdomen buncit, tali pusat tebal dan segar, menangis lemah, tonus otot hipotoni, dan kulit tipis, merah dan transparan.

c.       Bayi small for date sama dengan bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin

d.      Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya, karena itu sangat peka terhadap gangguan pernafasan, infeksi, trauma kelahiran, hipotermi, dan sebagainya. Pada bayi kecil untuk masa kehamilan (small for date) alat-alat dalam tubuh lebih berkembang dibandingkan dengan bayi prematur berat badan sama, karena itu akan lebih mudah hidup diluar rahim, namun tetap lebih peka terhadap infeksi dan hipotermi dibandingkan bayi matur dengan berat badan normal.  

 

E.     Faktor – Faktor yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Persalinan Preterm (Prematur) Atau Berat Badan Lahir Rendah.

1.       Faktor Ibu

a.       Gizi saat hamil yang kurang

b.      Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun

c.       Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat

d.      Penyakti menahun ibu : hipertensi,jantung, gangguan pembuluh darah (perokok).

e.       Faktor pekerja yang terlalu berat.

2.       Faktor Kehamilan

a.       Hamil dengan hidramnion

b.      Hamil ganda

c.       Perdarahan antepartum

d.      Komplikasi hasmil : pre –eklampsia/eklapsia, ketuban pecah dini

3.       Faktor Janin

a.       Cacat bawaan

b.      Infeksi dalam rahim

4.       Faktor yang Masih Belum Diketahui

 

F.      Ciri-ciri Aktivitas Bayi Baru Lahir Rendah

Ciri-ciri aktivitas bayi dengan berat badan lahir rendah berbeda-beda sehingga perlu diperhatikan gambaran umum kehamilan sebagai berikut :

1.       Ingat hari pertama menstruasi

2.       Denyut jantung terdengar pada minggu 18 sampai 22

3.       Fetal quickening minggu 16 sampai 22

4.       Pemeriksaan : tinggi fundus uteri, ultrasonografi (konsultasi)

5.       Penilaian secara klinik : berat badan lahir, panjang badan, lingkaran dada, dan lingkaran kepala.  

 

G.    Langkah – Langkah Menghindari Persalinan Preterm

Dengan mengetahui faktor penyebab persalinan preterm dapat dipertimbangkan langkah untuk menghindari persalinan preterm dengan jalan.

1.      Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur.

2.      Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan persalinan preterm.

3.      Memberikan nasehat tentang gizi saat kehamilan : meningkatkan pengertian KB intervall : memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan segera melakukan konsultasi, menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi / diobati.

4.      Meningkatkan keadaan sosial – ekonomi, keluarga dan kesehatan lingkungan.

 

H.     Masalah – Masalah yang Diperhatikan Menghadapi Bayi Preterm

Menghadapi bayi preterm harus memperhatikan masalah sebagai berikut :

1.       Suhu Tubuh

a.       Pusat mengatur nafas badan masih belum sempurna.

b.      Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah

c.       Otot bayi masih lemah

d.      Lemak kulit dan lemak coklat kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan.

e.       Kemampuan metabolisme panas masih rendah, sehingga bayi dengan berat badan lahir rendah perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar 360 sampai 370C.

2.       Pernapasan

a.       Pusat pengatur pernapasan belum sempurna

b.      Surfaktan paru-paru masih kurang, sehingga perkembangannya tidak sempurna.

c.       Otot pernapasan dan tulang iga lemah.

d.      Dapat disertai penyakit : penyakit hialin membran, mudah infeksi paru-paru, gagal pernapasan.

3.       Alat Pencernaan Makanan

a.       Belum berfungsi sempurna, sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemah/kurang baik.

b.      Aktivitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna, sehingga pengosongan lambung berkurang.

c.       Mudah terjadi regurgitasi isi lambugn dan dapat menimbulkan aspirasi pneuomonia.

4.       Hepar yang Belum Matang (Immatur)

Mudah menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga mudah terjadi hiperbilirubinemia (kuning) sampai kern ikterus.

5.       Ginjal Masih belum Matang (Immatur)

Kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna sehingga mudah terjadi odema.

6.       Perdarahan Dalam Otak

a.       Pembuluh darah bayi prematur masih rapuh, dan mudah pecah

b.      Sering mengalami gangguan pernapasan, sehingga memudahkan terjadi perdarahan dalam otak

c.       Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi

d.      Pemberian O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan nekrosis.  

 

I.        Gambaran Bayi Preterm

Gambaran bayi berat badan lahir rendah tergantung dari umur kehamilan sehingga dapat dikatakan bahwa makin kecil muda kehamilan makin nyata. Sebagai gambaran umum dapat dikemukakan bahwa bayi berat badan lahir rendah mempunyai karakteristik

1.             Berat kurang dari 2.500 gr

2.             Panjang kurang dari 45 cm

3.             Lingkaran dada kurang dari 30cm

4.             Lingkaran kepala kurang dari 33 cm

5.             Umur kehamilan kurang dari 37 minggu

6.             Kepala relatif lebih besar

7.             Kulit : tiis transparan, rambut lanugo banyak, lemak kulit kurang

8.             Otot hipotonik – lemah

9.             Pernapasna tak teratur dapat terjadi apnea (gagal napas)

10.         Ekstremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi – lurus

11.         Kepala tidak mampu tegak

12.         Pernapasan sekitar 45 sampai 50 kali per menit

13.         Fekuensi nadi 100 sampai 140 kali per menit.  

 

J.       Penyulit Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Penyulit bayi dengan berat badan lahir rendah teragntung dari beberapa faktor sebagai berikut :

1.       Umur hamil saat persalinan

Makin mudah kehamilan makin sulit beradaptasi dengan keadaan luar rahim sehingga terjadi komplikasi yang makin besar.

2.       Asfiksia / iskemia otak

Dapat terjadi nekrosis dan perdarahan

3.       Gangguan metabolisme

Menimbulkan asidosis, hipoglisemia, dan hiperbilirubinemia

4.       Mudah terjadi infeksi

Mudah menjadi sepsis dan meningitis

5.       Bila bayi dengan berat badan lahir rendah dapat mengatasi masih perlu dipertimbangkan kelanjutan penyulit, yaitu gangguan panca indra, gangguan sistem motorik saraf pusat, dapat terjadi hidrosefalus, cerebral palsy.

 

K.    Perawatan Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Yang perlu diperhatikan adalah pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan siap sedia dengan tabung oksigen. Pada bayi prematur makin pendek masa kehamilan, makin sulit dan banyak persoalan yang akan dihadapi, dan makin tinggi angka kematian perinatal. Biasanya kematian disebabkan oleh gangguan pernafasan, infeksi, cacat bawaan, dan trauma pada otak.

1.       Pengaturan Suhu Lingkungan

Bayi dimasukkan dalam inkubator dengan suhu yang diatur :

a.       Bayi berat badan dibawah 2 kg 350C

b.       Bayi berat badan 2 kg sampai 2,5 kg 340C

2.       Makanan Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Umumnya bayi prematur belum sempurna refleks mengisap dan batuknya, kapasitas lambung masih kecil, dan daya enzim pencernaan, terutama lipase, masih kurang. Maka makanan diberikan dengan pipet sedikit-sedikit namun lebih sering. Sedangkan pada bayi small for date sebaliknya kelihatan seperti orang kelaparan, rakus minum dan makan. Yang harus diperhatikan adalah terhadap kemungkinan terjadinya penumonia aspirasi.

 

L.     Prognosis Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oelh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi penumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan lainnya.

 

M.   Tata Laksana BBLR Saat Lahir

Seperti bayi baru lahir yang lain, BBLR perlu mendapat perhatian dan tatalaksana yang baik pada saat lahir, yaitu harus mendapat “Pelayanan Neonatal Esensial”, yang terdiri atas :

1.      Persalinan yang bersih dan aman

2.      stabilisasi suhu

3.      Inisialisasi pernapasan spontan

4.      inisiasi pernafasan ASI dini dan ekskusif

5.      Pencegahan infeksi dan pemberian imunisasi

Tatalaksana saat lahir mencakup :

a.       Penilaian BBLR saat lahir, dengan menggunakan dua parameter :

b.      Bernapas spontan atau menangis

c.       Air ketuban (keruh atau tidak

1.      Asuhan bayi baru lahir

  1. BBLR yang menangis termasuk dalam kriteria bayi lahir tanpa asfiksia. Bayi tersebut dalam keadaan bernafas baik dan berwarna air ketuban bersih. Untuk BBLR yang lahir menangis atau bernafas spontan ini dilakukan asuhan BBLR tanpa asfiksi sebagai berikut :

-          Bersihkan lendir secukupnya kalau perlu

-          Keringkan dengan kain yang kering dan hangat

-          Segera berikan pada ibu untukkontak kulit ibu dengan kulit bayi

-          Segera memberikan ASI dini dengan membelai

-          Jangan dimandikan segera (Tidak boleh dimandikan dalam waktu 12 jam pertama)

-          Profilaksis suntikan vitamin K1 1 mg dosis tunggal, IM pada paha kiri anterolateral

-          Antibiotika salep mata

-          Perawatan tali pusat : kering, bersihm tidak dibubuhi apapun dan terbuka

-          Bila berat lahir > 2000 gram dan tanpa masalah atau penyulit, dapat diberikan vaksinasi hepatitis B ke 1 pada paha kanan

  1. BBLR yang tidak bernapas spontan dimasukan ke dalam kategori lahir dengan asfiksia dan harus segera dilakukan langkah awal resusitasi dan tahapan resusitasi berikutnya bila diperlukan

Resusitasi

-          Diputuskan berdasarkan penilaian keadaan bayi baru lahir, yaitu bila

~        Diputuskan bercampur mekonium (letak kepala)

~        Bayi tidak menangis atau tidak bernafas spontanm atau bernafas megap-megap

-          Menggunakan acuan berikut

~        Asuhan bayi baru lahir dengan asfiksia pada buku APN

~        Buku modul atau kaset vidio manajemen dengan asfiksia bayi baru lahir untuk bidan

-          Langkah awal resusitasi

~        Jaga bayi dalam keadaan hangat

~        Atur posisi kepala bayi

~        Isap lendir dimulut, kemudian hidung

~        Keringkan sambil dilakukan rangsang taktil

~        Reposisi

~        Nilai keadaan bayi dengan melihat parameter : usaha nafas

-          Bila setelah dilakukan penilaian, bayi tidak menangis atau tidak bernafas spontan dan teratur

~        Lakukan ventilasi sesuai dengan tatalaksana manajemen asfiksia bayi baru lahir

~        Bila setelah ventilasi selama 2 menit, tidak berhasil, siapkan rujukan

Bila bayi tidak dirujuk dan tidak bernafas hentikan ventilasi setelah 20 menit, kemudian siapkan konseling dukungan emosional dan pencatatan bayi meninggal

 

N.     Perawatan Metode Kanguru Bagi BBLR

Perawatan metode kanguru memiliki 3 konponen :

a.       Kontak kulit dengan kulit antara bagian depan tubuh bayi dengan dada dan perut ibu dalam baju kanguru Ibu merupakan sumber panas bagi bayi. Kontak kulit dengan kulit dimulai saat setelah lahir dan berlanjut siang dan malam. Bayi hanya memakai topi atau kain untuk menjaga kepala tetap hangat dan bayi menggunakan popok yang dilapisi plastik sehingga bayi mendapatkan sumber panas secara terus menerus melalui konduksi dan radiasi. Pengganti ibu boleh ayah, tante, nenek.

b.    ASI eksklusif

ASI eksklusif adalah pemberian minum hanya ASI sampai bayi berumur 6 bulan. Bayi menetek segera setelah lahir sering. Kain yang membungkus disekeliling ibu dan bayi dilonggarkan untuk meneteki. Berikan informasi untuk membantu ibu bagaimana meneteki bayi.

c.       Memberikan dukungan terhadap ibu dan bayi

Walaupun kebutuhan ibu atau bayi terpenuhi dengan tidak memisahkan mereka. Ibu membutuhkan banyak dukungan dari suami dan keluarga yang lain untuk menjaga kontak yang terus menerus ini. Di fasilitasi kesehatan petugas akan membantu. Di rumah keluarga akan membantu.

 

 

 

 

1.Definisi Hipoglikemia

            Hipoglikemia adalah adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukosa darah < 45mg/dl sedangkan normalnya adalah 60-80 mg/dl.

Patofisiologi Hipoglikemia

1        Hipoglikemia sering terjadi pada BBLR karena cadangan glukosa rendah

2        Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga meniingkat pada janin. Saat lahir dimana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa terhenti sedangkan respon insulin masih tinggi sehingga terjadi hipoglikemia.

3      Hipoglikemia adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang yang berakibat hipoksi otak. Bila tidak diolah dengan baik akan menimbulkan kerusakan saraf pusat bahkan sampai kematian.

4        Kejadian hipoglikemia lebih sering terdapat dengan ibu DM

5        Glukosa merupakan kalori yang penting untuk pertahanan hidup selama persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir. Setiap stres yang terjadi mengurangi cadangan glikosa yang ada karena meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, dan gangguan pernafasan.

Diagnosa hipoglikemi

Anamnesis

a.       Riwayat bayi : asfiksia, hipotermi, hipertermi, dan gangguan pernafasan.

b.      Riwayat bayi prematur

c.       Riwayat bayi besar untuk masa kehamilan

d.      Riwayat bayi kecil untuk masa kehamilan

e.       Riwayat bayi dengan ibu diabetes melitus

f.       Riwayat bayi dengan penyakit jantung bawaan

g.      Bayi yang sakit atau stres

h.      Bayi yang lewat bulan

i.        Bayi dengan polisemia

j.        Bayi dengan puasa

k.      Bayi dengan eritlobastosis

l.        Obat-obatan yang dikonsumsi ibu misalnya steroid, beta simpatomimetik dan beta bloker

 

2.Gejala klinis atau pemeriksaan fisik

Gejala hipoglikemia: tremor, jitteri, keringat dingin, latergi, kejang, distres nafas

1.      Jitteri

2.      Sianosis

3.      Kejang atau tremor

4.      Latergi dan menyusui yang buruk

5.      Apnea

6.      Tangisan yang lemah atau dengan nada tinggi

7.      Hipotermia

Diagnosis banding

Insufisiensi adrenal kelainan jantung, gagal ginjal, penyakit ssp, sepsis, asfiksia, abnormalitas metabolik ( hipolkalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hiponagsemia, hipodefisiensi piridoksin)

Penyulit :

1.      Hipoksia otak

2.      Kerusakan sistem saraf pusat

Tata laksana :

1.      Monitor

Pada bagian yang berisiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM)

Perlu monitor dalam 3 hari pertama :

a.       Periksa kadar glukosa saat bayi datang atau umur 3 jam.

b.      Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 x pemeriksaan.

c.       Kadar glukosa < 45mg/dl atau gejala positif tangani hipoglukemia

d.      Pemeriksaan pada kadar glukosa baik,pulangkan selama 3 hari penanganan hipoglikemia selesai.

2.      Penanganan hipoglikemia dengan gejala :

a.       Bolus glukosa 10% 2ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1ml/menit

b.      Pasang jalur iv D10 sesuai kebutuhan ( kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit

Atau dengan cara lain GIR

Konsentrasi glukosa tertinggi perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral.

a.       Untuk mencari kecepatan infus glukosa pada neonatus ditetapkan dengan GIR

Kecepatan infus (GIR = Glucosa Infusion Rate)

GIR ( ng/kg/min)

Kecepatan cairan (cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%)

6x berat (kg)

b.      Periksa glukosa darah pada : satu jam setelah bolus dan tiap 3 jam.

c.       Bila kadar glukosa masih kurang dari 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas

d.      Bila kadar 25-45 mg/dl tanpa gejala klinis

1.      Infus dextrose 10 diteruskan

2.      Periksa kadar glukosa tiap 3 jam

3.      Asi diberikan bila bayi dapat minum

e.       Bila kadar glukosa > 45 mg/dl dalam dua kali pemeriksaan

1.      Ikuti petunjuk jika kadar glukosa sudah normal

2.      Asi diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus dapat diturunkan pelan-pelan.

3.      Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba

3.      Kadar glukosa darah kurang 45mg/dl tanpa gejala :

a.       asi teruskan

b.      pantau bila ada manajemen seperti atas

c.       periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :

1.      kadar < 25mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi

2.      kadar 25-45 mg/dl naikkan frekuensi minum

3.      kadar > 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal.

4.      kadar glukosa normal :

a.       IV teruskan

b.      Periksa kadar glukosa tiap 12 jam

Bila kadar glukosa turun, atasi dengan cara diatas

Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila dua kali pemeriksaan dalam batas normal pengukuran dihentikan.

5.      persisten hipoglikemia ( hipoglikemia > 7 hari)

a.       Konsultasi endokrin

b.      Terapi : kortikosteroid, hidrokortison 5 mg/kg/hari 2x perhari IV atau pretmison 2mg/kg/hari/oral mebcari kausal hipoglikemia lebih dalam\




BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 A.    Kesimpulan

            Dalam kasus ini ditemui pentingnya pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan tentang tindakan dan deteksi dini bahwa bayi yang akan dilahirkan akan mengalami BBLR. Sehingga petugas kesehatan dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi dan dapat melakukan tindakan secara cepat dan tepat.

            Dengan demikian angka mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir yang disebabkan oleh BBLR  dapat di turunkan.

 B.     Saran

            Bidan dituntut suatu ketrampilan yang memadai dalam mengantisipasi segala resiko yang dapat terjadi dalam proses kelahiran sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat untuk mengantisipasi masalah pada bayi baru lahir. Untuk itu penulis memberikan saran kepada para bidan atau petugas kesehatan lainnya agar dapat mendokumentasikan semua tindakan dan perkembangan atau masalah yang terjadi sesuai dengan asuhan kebidanan.

  

BAB V

PENUTUP

 Puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan studi kasus Asuhan Kebidanan pada bayi baru lahir dengan BBLR.

Dalam hal ini penulis menyadari mungkin Studi kasus Asuhan Kebidanan Patologis ini jauh dari kesempurnaan baik isi maupun cara penulisannya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dan penambahan pengetahuan di masa mendatang.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan, baik matrial maupun spiritual sehingga tersusunnya studi kasus Asuhan Kebidanan Patologis ini dan semoga mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT, akhir kata, semoga studi kasus ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.

 

 

 

 

                   Bandar  Jaya,   Mei 2016

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Depkes RI, 2007, Modul Manajem Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Untuk Bidan Desa, Jakarta

 Profil Kesehatan Indonesia, 2005

 Profil kesehatan Propisi Lampung, 2005

 Manuaba, IBG., 1998, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta

 Mochtar,  R., 1998, Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta

 Saifuddin, AB., 2002, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta